Halaman

Tampilkan postingan dengan label Artikel Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Religi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 April 2017

Pemuda dan Dakwah

By: Iwan Subhan

Ditengah-tengah kehidupan yang semakin maju dengan teknologi, tantangan dakwah menjadi semakin berat, serangan ghazwul fikri dari kalangan barat/ musuh islam semakin menjadi, membabibuta menyerang umat Islam dari berbagai arah. Mereka yang tidak senang pada Islam merusak ummat dengan 3F yakni Food, Fun, dan Fashion.

Rabu, 19 Februari 2014

Untuk Apa Kita Hidup?

Mungkin kita pernah bertanya untuk apa kita hidup? bagaimana kita hidup? dll

Satu hal yang sangat penting dalam hidup adalah kita harus memiliki tujuan hidup.
Tujuan hidup harus kita pahami dengan benar, agar semua yang kita lakukan akan lebih terarah, terfokus dan kita juga bisa terhindar dari perbuatan sia-sia.
Seseorang yang memiliki tujuan hidup, walaupun lambat jalannya, itu jauh lebih baik dari orang yang melakukan percepatan tetapi ia tidak memiliki tujuan hidup.
Walau lambat, asal istiqomah melangkah, insyaAllah ia akan sampai ke tempat tujuannya.

Kurang lebih ada 3 tugas utama kita dan ke sanalah tujuan hidup kita arahkan.

Sabtu, 29 Januari 2011

HUSNUZAN DAN TAUBAT



A.    Husnuzan
Kata husnuzan berasal dari bahasa Arab yang terdiri atas husnu dan azh-zhan. Husnu artinya bai dan azh-zhan artinya prasangka, jadi husnuzan artinya berprasangaka baik. Lawan dari husnuzan adalah suuzan, yang artinya berprasangaka buruk.
Orang yang husnuzan ialah orang yang selalu berfikir positif dan tidak pernah berburuk sangka terhadap apa yang dilakukan orang lain. Sedangkan orang yang suuzan ialah orang yang selalu berfikiran negatif dan selalu berburuk sangka terhadap apa yang dilakukan orang lain.
1.      Pengertian Husnuzan Kepada Allah
Husnuzan terhadap Allah artinya menerima semua yang menjadi takdir dan keputusan Allah. QS. Yunus ayat:44 yang artinya:
Sesungguhnya Allah tidak berbuat aniaya kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itu sendiri berbuat anuaya kepada diri mereka sendiri. (QS. Yunus: 44)
2.      Sikap Husnuzan Kepada Allah
a.       Meyakini bahwa Allah Maha Esa (tauhid)
Dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah :225 yang artinya:
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksudkan (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantujn (tidak segera menyiksa orang yang berbuat dosa). (QS. Al-Baqarah: 225)
b.      Bertaqwa kepada Allah
Dejelaskan dalam QS. Al –Hujrat: 14 yang artinya:
Hai mnanusia, sesunggunhnya Kami menciptakan kamu seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengengal. (QS. Al-Hujrat:14)

c.       Berserah diri kepada Allah (tawakal)
Dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah:112 yang artinya:
Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhan dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah:112)
d.      Menerima dengan ikhlas semua keputusan Allah
Dijelaskan dalam QS. At-Taubah:59 yang artinya:
Jika mereka sungguh-sungguh rida dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah. (Tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). (QS. At-Taubah:59)

3.      Hikmah Husnuzan kepada Allah
Sikap husnuzan mempunyai hikmah yang besar. Berhusnuzan kepada Allah memiliki hikmah yang banyak, diantaranya seperti berikut.
a.       Selalu optimis dalam menyongsong masa depan
Dijelaskan dalam QS. Az-Zumar:54 yang artinya:
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang emlampaui batas terhadap adiri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
b.      Tidak mudah putus asa
Dijelaskan dalam QS. Yusuf:87 yang artinya:
Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.
c.       Selalu bersyukur kepada Allah
Bersyukur dapat dilakukan dengan cara mempertebal iman dan meningkatkan takwa. Berikut diantara ciri-ciri orang bertakwa:
1)      Surah al-Baqarah ayat 2-5 yaitu mempercayai yang ghaib, menegakan salat, mengeluarkan zakat dan sedekah, mempercayai kitab-kitab samawi, meyakini adanya hari akhir, dan mengikuti hidayah Allah. QS. Al-Baqarah tersebut yang artinya:
(2) Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, ayng mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (4) dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah dirurunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (5) mereka itulah yang tetap mendapat petunguk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
2)      Surah Ali-Imran ayat 134-135 yaitu mampu berinfak baik dalam keadaan sulit maupun longgar, mampu menahan marah, pemaaf, selalu berbuat baik, jika berbuat salah sadar dan istigfar serta tidak mengulangi.
Artinya:
Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila menherjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengambuni dosa selain Allah? Dan merekan tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui.
3)      Surah az-Zariyat ayat 16-20, yaitu mengambil apa saja yang diberikan Allah kepadanya, selalu berbuat baik, di waktu malam sedikit tidurnya, istighfar di waktu sahur (tahajud di waktu sepetiga akhir malam), selalu sedekah dan zakat, mampu mengambil pelajaran apa yang ada di muka bumi.
Artinya:
(16) Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik, (17) Mereka sedikit tidur di waktu malam (18)Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). (19) Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang moskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (20) Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasan Allah) bagi orang-orang yang yakin.
4)      Hadis rasul untuk Muads bin Jabal, beliau memberi nasihat tentang takwa, yaitu kata-kata jujur, menepati janji (termasuk mengembalikan utang), melaksanakan amanah (tanggung jawab), menjaga tetangga (demi baiknya), sayang kepada anak yatim, kata-katanay lemah lembut, selalu berbuat baik, berusaha mewujudkan cita-cita, menepati sebagai orang beriman, membenarkan akhirat, paham (beruasaha paham) terhadap Al-Qur’an, takut kepada hisab, selalu berusaha mengurangi dosa (seperti banyak melangkahkan kaki ke mesid untuk beribadah).
B.      Tobat
1.      Pengerian Tobat dan Dasar-dasarnya
a.       Pengertian Tobat
Kata tobat itu berasal dari bahasa Arab (taba-yatubu-taubatan) yang artinya kembali. Secara terminologi tobat diartikan seperti berikut:
1)      Menurut Imam Ghazali kembali mengikuti jalan yang benar setelah menempuh jalan yang salah.
2)      Menurut Hasib Ash Shiddiq berpindah dari keadaan dibenci dan dikutuk oleh Allah kepada keadaan yang diridai dan dicintai-Nya.
Dengan demikian orang yang bertobat kepada Allah kembali dari hal-hal yang terlarang (akhlak tercela) kepada hal-hal yang diperintahkan (akhlak terpuji).
b.      Dasar-dasar Tobat
Dasar-dasar tobat adalah sebagai berikut:
1)      Surah At-Tahrim ayat 8 yang artinya:
Hai orang-orang beriman, berobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.
2)      Surah An-Nur ayat 31 yang artinya:
Dan berobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman agar kamu beruntung.
3)      Hadis Nabi SAW yang artinya:
Hai manusia, bertobatlah dan mintalah ampunan kepada Allah, karena sesungguhnya, aku bertobat seratus kali sehari. (HR Muslim)
4)      Hadis Nabi SAW yang artinya:
Stiap manusia (dapat berbuat) salah, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah itu yang mau bertobat. (HR. Tirmizi, Ibnu Majali, dan Hikmah)
Seorang muslim tidak boleh merasa terlambat bertobat, kapan saja, di mana saja, Allah akan menerima tobat siapa pun sebelum byawa belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut).

2.      Persyaratan Melakukan Tobat
Tidak semua tobat itu bisa diterima oleh Allah. Allah hanya mau menerima tobat seseorang jika memnuhi persyaratan tertentu. Adapun persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Menyadari kesalahan yang diperbuat
Pelaku dosa tidak akan bisa melakukan tobat jika tidak mampu menyadari perbuatannya. Karena itu pelaku dosa harus mampu menyadarkan dirinya atas dosa-dosa yang telah dilakukannya.
b.      Menyesali kesalahan
Meskipun pelaku dosa telah mengakui dan menyadari kesalahannya, namun untuk menyesali dan berhenti dari perbuatan tersebut sangatlah sulit, maka sangat dibutuhkan kesabaran dan dubutuhkan bimbingan orang yang lebih mengetahui masalah agama.
c.       Memohon ampun kepada Allah
Rasulullah telah menganjurkan kepada umatnya yang beiman agar selalu memohon ampunan (istighfar) kepada Allah. Dan beliau mencontohkan dirinya sendiri, bahwa dia sehari memohon ampunan (istighfar) sebanyak seratus kali.
d.      Berjanji tidak akan mengulangi kesalahan dan tidak berbuat kesalahan lain
Pelaku dosa harus mampu berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan dosa. Karena bila teulang,kemudian bertaubat, kemudian terulang lagi, maka Allah SWT akan menempatkannya di jahanam.
e.       Memperbanyak berbuat kebaikan
Bertobat selain berhenti dari perbuatan dosa, harus rajin melakukan kebaikan hingga habis umurnya.
QS. Toha:82 yang artinya:
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar (petunjuk Allah).


3.      Hikmah Tobat
Tobat selain menjadi kewajiban setiap muslim, juga memiliki hikmah seperti berikut:
a.       Orang yang bertobat akan dicintai Allah. QS al-Baqarah yang artinya:
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang mensucikan dirinya.
b.      Orang yang bertobat akan delapangkan rezekinya oleh Allah dan dimudahkan segala urusannya. Dalam suatu hadis ditegaskan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar bagi orang yang bertobat (beristighfar) dan Allah juga akan mengganti kesusahan dengan kegembiraan serta akan memberikan rezeki kepadanya tanpa diduga-duga.
c.       Orang yang bertobat akan disucikan hatinya dari segala dosa-dosa.
Membersihkan noda hitam di hati itu dengan memperbanyak berbuat kebaikan, karena dengan berbuat kebaikan bisa menhapus dosa-dosa yang telah dilakukan, dalam berbuat kebaikan itu didasari hati yang ikhlas hanya karena mencari rida Allah.
QS. Hud: 114 yang artinya:
Sesungguhnya kebaikan itu bisa menghapus kejelekan.
4.      Contoh perilaku orang yang bertobat:
§  Lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu disebabkan takut terjerumus lagi ke dalam dosa.
§  lebih giat beramal karena merasa khawatir dosanya belum diampuni oleh Allah Swt.
§  Seorang penjahat, perampok, penjudi, pemerkosa, pelaku zina dia bertobat memohon ampunan kepada Allah SWT atas semua perbuatan dosanya selama ini, dia bertobat dengan sungguh sungguh (taubat nasuha), dia menyesali atas segala perbuatan dosanya selama ini dan dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
5.      Contoh perilaku husnuzan:
§  Seseorang yang ditimpa musibah/ keinginannya tidak terkabulkan tetap berhusnuzan kepada Allah dan yakin bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik kepadanya dan dibalik musibah yang menimpanya pasti ada hikmah yang dapat ia ambil
§  Seorang istri berhusnuzan kepada suaminya yang akan bepergian jauh, bahwa suaminya tidak akan berbuat yang tidak diinginkannya.
§  Seorang atasan selalu berhusnuzan kepada para bawahannya dan tidak menuduh/ menyalahkan yang tidak tidak.
§  Seseorang yang senantiasa taat kepada Allah, bersyukur apabila mendapatkan kenikmatan, bersabar dan ikhlas apabila mendapatkan ujian serta cobaan, yakin bahwa terdapat hikmah di balik segala penderitaan dan kegagalan.

Sejarah Islam (Sejarah Berdirinya Dinasti Al-ayyubiyah)


Rangkuman materi:
1.1  Sejarah Pembentukan Dinasti Al-ayyubuyah (569-650/ 1174-1252 M)
            1.1.1      Berdirinya dinasti Al-ayyubiyah
Bani Ayyubiyah merupakan keturunan Ayyub suku Kurdi. Pendiri dinasti ini adalah Salahuddin Yusuf al-Ayyubi putra dari Najamuddin bin Ayyub. Pada masa Nuruddin Zanki (Gubernur Suriah dari bani Abbasiyah), Salahuddin diangkat sebagai kepala garnisum di Balbek.
Kehidupan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi penuh dengan perjuangan dan peperangan. Semua itu dilakukan dalam rangka menunaikan tugas negara untuk memadamkan sebuah pemberontakan dan juga dalam menghadapi tentara salib.
Perang yang dilakukannya dalam rangka untuk mempertahankan dan membela agama. Selain itu Salahuddin Yusuf al-Ayyubi juga seorang yang memiliki toleransi yang tinggi terhadap umat agama lain, hal ini terbukti:
a. Ketika beliau menguasai Iskandariyah ia tetap mengunjungi orang-orang kristen
b.      Ketika perdamaian tercapai dengan tentara salib, ia mengijinkan orang-orang kristen berziarah ke Baitul Makdis.
Keberhasilan beliau sebagai tentara mulai terlihat ketika ia mendampingi pamannya Asaduddin Syirkuh yang mendapat tugas dari Nuruddin Zanki untuk membantu Bani Fatimiyah di Mesir yang perdana menterinya diserang oleh Dirgam. Salahuddin Yusuf al-Ayyubi berhasil mengalahkan Dirgam, sehingga beliau dan pamannya mendapat hadiah dari Perdana Menteri berupa sepertiga pajak tanah Mesir. Akhirnya Perdana Menteri Syawar berhasil menduduki kembali jabatannya pada tahun 1164 M.
Tiga tahun kemudian, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi kembali menyertai pamannya ke Mesir. Hal ini dilakukan karena Perdana Menteri Syawar bersekutu/ bekerjasama dengan Amauri yaitu seorang panglima perang tentara salib yang dulu pernah membantu Dirgam. Maka terjadilah peperangan yang sangat sengit antara pasukan Salahuddin dan pasukan Syawar yang dibantu oleh Amauri. Dalam. Dalam peperangan tersebut pasukan Salahuddin berhasil menduduki Iskandariyah, tetapi ia dikepunt dari darat dan laut oleh tentara salib yang dipimpin oleh Amauri. Akhirnya peperangan ini berakhir dengan perjanjian damai pada bulah Agustus 1167 M, yang isinya adalah sebagai berikut:
a.       Pertukaran tawanan perang
b.      Salahuddin Yusuf al-Ayyubi harus kembali ke Suriah
c.       Amauri harus kembali ke Yerusalem
d. Kota Iskandariyah diserahkan kembali kepada Syawar.
Pada tahun 1169, tentara salib yang dipimpin oleh Amauri melanggar perjanjian damai yang disepakati dahulu yaitu Dia menyerang Mesir dan bermaksud untuk menguasainya. Hal itu tentu saja sangat membahayakan keadaan umat islam di Mesir, karena:
a.       Mereka banyak membunuh rakyat di Mesir
b.      Mereka berusaha menurunkan Khalifah al-Adid dari jabatannya
Khalifah al-Addid mengangkat Asaduddin Syirkuh sebagai Perdana Menteri Mesir pada tahun 1169 M. ini merupakan pertama kalinya keluarga al-Ayyubi menjadi Perdana Menteri, tetapi sayang beliau menjadi Perdana Menteri hanya dua bulan karena meninggal dunia. Khalifal al-Adid akhirnya mengangkat Salahuddin Yusuf al-Ayyubi menjadi Perdana Menteri menggantikan pamannya Asaduddin Syirkuh dalam usia 32 tahun. Sebagai Perdana Menteri beliau mendapati gelah al-Malik an-Nasir artinya penguasa yang bijaksana.
Setelah Khalifah al-Adid (Khalifah Dinasti Fatimah) yang terakhir wafat pada tahun 1171 M, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi berkuasa penyh untuk menjalankan peran keagamaan dan politik. Maka sejak saat itulah Dinasti Ayyubiyah mulai berkuasa hingga sekitar 75 tahun lamanya.
            1.1.2        Penguasa-penguasa Dinasti Al-Ayyubiah
Selama lebih kurang 75 tahun dinasti Al-Ayyubiyah berkuasa, terdapat 9 orang penguasa yakni sebagai berikut:
1.      Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi (1171-1193 M)
2.      Malik Al-Aziz Imaduddin (1193-1198 M)
3.      Malik Al-Mansur Nasiruddin (1198-1200 M)
4. Malik Al-Adil Saifuddin, pemerintahan I (1200-1218 M)
5.      Malik Al-Kamil Muhammad (1218-1238 M)
6.   Malik Al-Adil Sifuddin, pemerintahan II (1238-1240 M)
7.      Malik As-Saleh Najmuddin (1240-1249 M)
8.      Malik Al-Mu’azzam Turansyah (1249-1250 M)
9.      Malik Al-Asyraf Muzaffaruddin (1250-1252 M)
Dalam uraian berikut akan dibahas mengenai penguasa-penguasa yang menonjol, yaitu:
1.      Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi (1171-1193 M)
2.      Malik Al-Adil Saifuddin, pemerintahan I (1200-1218 M)
3.      Malik Al-Kamil Muhammad (1218-1238 M)

1.      Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi (1171-1193 M)
Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi tidak hanya dikenal sebagai seorang panglima perang yang gagah berani dan ditakuti, akan tetapi lebih dari itu, beliau adalah seorang yang sangat memperhatikan kemajuan pendidikan. Salah satu karya monumental yang disumbangkannya selama beliau menjabat sebagai sultan adalah bangunan sebuah benteng pertahanan yang diberi nama Qal’atul Jabal yang dibangun di Kairo pada tahun 1183 M.
Selain itu beliau juga merupakan salah seorang Sultan dari dinasti Ayyubiyah yang memiliki kemampuan memimpin. Hal ini diketahui dari cara Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi dalam mengangkat para pembantunya (Wazir) yang terdiri dari orang-orang cerdas dan terdidik. Mereka antara lain seperti Al-Qadhi Al-Fadhil dan Al-Katib Al-Isfahani. Sementara itu sekretaris pribadinya bernama Bahruddin bin Syadad, yang kemudian dikenal sebagai penulis Biografinya.
Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi tidak membuat suatu kekuasaan yang terpusat di Mesir. Beliau justru membagi wilayak kekuasaannya kepada saudara-saudara dan keturunannya. Hal ini mengakibatkan munculnya beberapa cabang dinast Ayyubiyah berikut ini:
a.       Kesultanan Ayyubiyah di Mesir
b.    Kesultanan Ayyubiyah di Damaskus
c.       Keamiran Ayyubiyah di Aleppo
d.      Kesultanan Ayyubiyah di Hamah
e.       Kesultanan Ayyubiyah di Homs
f. Kesultanan Ayyubiyah di Mayyafaiqin
g.      Kesultanan Ayyubiyah di Sinjar
h.  Kesultanan Ayyubiyah di Hisn Kayfa
i.        Kesultanan Ayyubiyah di Yaman
j.        Keamiran Ayyubiyah di Kerak

Salahuddin Yusuf al-Ayyubi dianggap sebagai pembaharu di Mesir karena dapat mengembalikan mazhab sunni. Melihat keberhasilannya itu Khlaifah al-Mustadi dari Bani Abbasiyah memberi gelar kepadanya al-Mu’izz li Amiiril mu’miniin (penguasa yang mulia). Khalifah al-Mustadi juga memberikan Mesir, an-Naubah, Yaman, Tripoli, Suriah dan Maghrib sebagai wilayah kekuasaan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi pada tahun 1175 M. sejak saat itulah Salahuddin dianggap sebagai Sultanul Islam Wal Muslimiin (Pemimpin umat ilam dan kaum muslimin).
Di antara orang-orang yang iri dan melakukan pemberontakan terhadap Salahuddi Yusuf al-Ayyubi adalah sebagai berikut:
a.       Pemberontakan yang dilakukan Nuruddin Zanki, ia memberontak karena kebesaran namanya tersaingi oleh Salahuddin Yusuf al-Ayyubi
b.      Pemberontakan yang dilakukan Hijab (Kepala rumah tangga Khalifah al-Adid), ia memberontak karena merasa hak-haknya banyak dikurangi.
c.       Pemberontakan yang dilakukan oleh kaum Asassin yang dipimpin oleh Syakh Sinan karena merasa tersaingi.
d.      Pemberontakan yang dilakukan Zanki, kelompok ini merupakan permbela Al-Malik as-Salih yang bersekongkol dengan al-Gazi (penguasa Mosul dan paman Malik as-Salih Ismail) yang beusaha menjatuhkan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi karena merasa tersaingi.
Perang melawan tentara salib yang pertama adalah melawan Amalric 1, taja Yerusalem, yang kedua melawan Baldwin IV (putra Amalric 1), yang ketiga melawan Raynald de Chatillon (penguasa benteng Karak di sebelah tidur laut mati), yang keempat melawan Raja Baldwin V sehingga kota-kota seperti Teberias, Nasirah, Samaria, Suweida, Beirut, Batrun, Akra, Ramalah, Gaza Hebron dan Baitul Maqdis berhasil dikuasai oleh Salahuddin Yusuf al-Ayyubi.
Selain Clement III, para penguasa Eropa yang membantu dalam perang melawan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi adalah:
a.       Philip II, Raja Prancis
b.      Rivhard I, The Lion Heart (Hati Singa), Raja Inggris
c.       William, raja Sisilia
d.      Frederick Barbafossa, Kaisar Jerman
Setelah perang melawan tentara salib selesai, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi memindahkan pusat pemerintahannya dari Mesir ke Damaskus, dan dia meninggal di sana pada tahun 1193 M dalam usia 57 tahun.

2.      Malik Al-Adil Saifuddin, pemerintahan I (1200-1218 M)
Sering dipanggil Al-Adil nama lengkapnya adalah al-Malik al-Adil saifuddin Abu Bakar bin Ayyub. Dari nama Sifuddin inilah tentara salib memberi julukan Saphadin. Beliau putra Najmuddin Ayyub yang merupakan saudara muda Salahuddin Yusuf al-Ayyubi.
Setelah kematian Salahuddin, Ia menghadapi pemberontakan dari Izzuddin di Mosul. Ia juga menentukan siapa yang berhak menjadi penguasa ketika terjadi perselisihan diantara anak-anak Salahuddin Yusuf al-Ayyubi yaitu al-Aziz dan  al-Afdal. Setelah kematian al-Aziz. al-Afdal berusaha meduduki jabatan Sultan, akan tetapi al-Adil beranggapan al-Afdal tidak pantas menjadi Sulatan. Akhirnya terjadilah peperangan antara keduanya, al-Adil nberhasil mengalahkan al-Afdal dan beliau menjadi Sultan di Damaskus.
Al-Adil merupakan seorang pemimpin pemerintahan danpengatur strategi yang berbakat dan efektif.

3.      Malik Al-Kamil Muhammad (1218-1238 M)
Nama lengkap al-Kamil adalah al-Malik al-Kamil Nasruddin Abu al-Maali Muhammad. Selain dipuja karena mengalahkan dua kali pasukan salib ia juga dicaci maki karena menyerahkan kembali kota Yerusalem kepada orang Kristen.
Al-Kamil adalah putra dari al-Adil. Pada tahun 1218 al-Kamil memimpin pertahanan menghdapi pasukan salib yang mengepung kota Dimyat (Damietta) dan kemudian menjadi Sulatan sepeninggal ayahnya. Pada tahun 1219, Ia hampir kehilangan takhtanya karena konserpasi kaum kristen koptik. Al-Kamil kemudian pergi ke Yaman untuk menghindari konspirasi itu, akhirnya konspirasi itu berhasil dipadamkan oleh saudaranya bernama al-Mu’azzam yang menjabat sebagai gubernur Suriah.
Pada bulan Februari tahun 1229 M, al-Kamil menyepakati perdamaian selama 10 tahun denga  Federick II, yang berisi antara lain:
a.       Ia mngembalikan Yerusalem dan kota-kota suci lainnya kepada pasukan salib
b.      Kaum muslimin dan yahudi dilarang memalsuki kota itu kecuali disekitar Masjidil Aqsa dan Majid Umar.
Al-Kamil meninggal dunia pada tahun 1238 M. Kedudukannya sebagai Sultan digantikan oleh Salih al-Ayyubi.

            1.1.3        Berakhirnya dinasti Ayyubiyah
Runtuhnya Dinasti Ayyubiyah dimulai pada masa pemerintahan Sultan As-Salih. Setelah As-Salih meniggal pada tahun 1249 M, kaum Mamluk mengangkati estri As-Salih, Syajaratud Durr sebagai Sultanah. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Dinasti Ayyubiah di Mesir. Medkipun demikian dinasti Ayyubiyah masih berkuasa di Suriah. Pada tahun 1260 M. tentara Mongol hendak menyerbu Mesir. Komando tentara Islam dipegang oleh Qutuz, panglima perang Mamluk. Dalam pertempuran di Ain Jalut, Qutuz berhasil mengalahkan tentara Mongol dengan gemilang. Selanjutnya, Qutuz mengambil alih Kekuasaan Dinasti Ayyubiyah. Sejak itu, berakhirlah kekuasaan Dinasti Ayyubiyah.

PIDATO BAHASA ARAB DAN TERJEMAHANNYA TENTANG TANTANGAN AKHIR ZAMAN

Berikut pidato tentang tantangan akhir zaman dalam bahasa Arab beserta terjemahannya: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الحمد لله الذي أنع...