Minggu, 23 April 2017

Pemuda dan Dakwah

By: Iwan Subhan

Ditengah-tengah kehidupan yang semakin maju dengan teknologi, tantangan dakwah menjadi semakin berat, serangan ghazwul fikri dari kalangan barat/ musuh islam semakin menjadi, membabibuta menyerang umat Islam dari berbagai arah. Mereka yang tidak senang pada Islam merusak ummat dengan 3F yakni Food, Fun, dan Fashion.

Sasaran utama mereka adalah generasi muda Islam/ kaum remaja, karena cenderung masih mudah diarahkan dan diwarnai. Berbicara remaja maka paling mudah diserang melalui 3F tadi, Food, Fun dan Fashion  (Makanan, Hiburan dan Pakaian).

Semua serangan pemirikan tersebut tujuannya hanya satu yakni agar muslim menjauh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjadi sumber kekuatannya. Sehingga mereka menjadi lemah. Dan ketika Muslim jauh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah maka Allah bukan lagi menjadi tujuan utamanya, bukan lagi menjadi sumber kebahagiaan bagi mreka, melainkan materi lah yang menjadi tujuan mereka, menjadi sumber kebahagiaan baru mereka.

Hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, sudah saatnya kita para generasi muda sadar dan bangkit dari keterpurukan ini. Dakwah menjadi satu-satunya jalan untuk menyadarkan umat dan membawa mereka kepada jalan yang sesuai dengan syariat Islam.


Dakwah ini tidak hanya menjadi tugas para Ulama, Kiyai dan para Santri saja, tetapi ini adalah kewajiban kita semua selaku muslim.

Namun demikian, tidak semua orang mampu mengemban amanah dakwah ini, dan hanya orang-orang yang dipilih Allah sajalah yang akan mampu mengembannya. Karena dakwah ini adalah amanah dari Allah, pekerjaan paling mulia, proyek dan warisan dari para nabi dan rasul yang notabene adalah insan pilihan, dan pertanggungjawabanannya pun langsung kepada Allah. Maka pantaslah Allah hanya mengamanahkan dakwah ini hanya kepada ummat terbaik pilihanNya saja.

Pekerjaan dakwah ini tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan apapun. Orang yang terlibat di jalan dakwah ini disebut Khowasul Ummah/ ummat pilihan. Orang akan terbawa mulia oleh pekerjaannya, berkorban demi dakwah, maka kita harus berbangga melibatkan diri kita dalam pekerjaan dakwah ini.

Pekerjaan utama kita adalah berdakwah. Adapun profesi kita, baik itu sebagai pengusaha, pedagang, karyawan, guru, PNS dan lain sebagainnya adalah sebagai sarana kita untuk berdakwah. Karena berdakwah tidak melulu harus di mesjid, atau di majelis taklim saja, tetapi luas, mencakup semua ranah, seperti di jalanan, perkantoran, lingkungan sekitar, sekolah lingkungan pemerintahan dan lain-lain.

Dan dakwah pun tidak melulu harus dengan memberikan ceramah, karena mungin tidak semua dari kita mumpuni dalam bidang tersebut. Tetapi seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW dakwah juga bisa dilakukan dalam bentuk perbuatan, dakwah bil hal.

Seluruh aktifitas keseharian hidup  kita diatur oleh Islam, dari mulai bangun tidur sampai dengan tidur lagi. Seorang ayah atau pemimpin keluarga harus memberikan contoh yang baik bagi istri dan anak-anaknya, seorang guru harus menjadi suri tauladan yang baik bagi murid-muridnya, seorang pemimpin harus menjadi teladan bagi rakyatknya.
Rasulullah SAW sebagai panutan dan suri tauladan terbaik bagi kita telah mengajarkan bagaimana menjadi seorang muslim yang baik yang kehidupannya sesuai dengan pedoman Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Fase hidup kita mulai dari alam rahim (alam kesucian), alam dunia dan alam kekal nanti di akhirat. Ada tiga hal mengenai hidup kita di dunia ini, pertama, hidup adalah pilihan. Jalan mana yang akan kita tempuh, yang baik atau kah yang bathil, beriman ataukah kafir.

Kemudian yang kedua hidup adalah ujian. Belum bisa dikatakan seseorang itu beriman sebelum ia diuji, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 2-3 “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?”. Semakin tinggi kualitas iman seseorang, semakin tinggi pula ujiannya.

Dan yang ketiga, hidup adalah pembauran, manusia tergantung pengaruh lingkungannya, apakah seseorang akan mampu mewarnai lingkungannya dengan kebaikan ataukah justru dia yang akan terwarnai oleh pengaruh buruk lingkungannya.

Kita tidak boleh salah dalam memilih, jangan gagal dalam ujian, dan jangan terpengaruh atau terkontaminasi oleh pengaruh buruk lingkungan. Konsep hidup terbaik adalah yang sesuai dengan syari’ah Islam. Perkuat benteng keimanan kita, keutuhan iman kita harus terbawa sampai kita mati.

Seorang mukmin lahir dalam keadaan beriman sebanyak 2 kali, sedangkan kafir hanya 1 kali. Hal ini maksudnya setiap manusia di alam rahim ada dalam keaadaan suci, dan lahir ke dunia sebagai seorang bayi yang juga masih suci, belum terkontaminasi oleh pengaruh-pengaruh lingkungan, faham ataupun pemikiran luar. Ini merupakan lahir yang pertama, antara mukmin dan kafir sama-sama terlahir dalam keaadaan suci.

Kemudian seiring dengan perjalanan hidup di dunia, setiap manusia akan dihadapkan dalam berbagai pilihan, ujian dan juga pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Sehingga setelah ia meninggal dunia, dan kemudian Allah bangkitkan kembali di akhirat kelak, seorang mukmin akan Allah bangkitkan kembali dalam keaadan beriman dan akan mendapatkan balasan berupa kebahagiaan yang tiada tara. Sedangkan seorang kafir akan dibangkitkan lagi dalam keadaan kafir dan akan mendapat siksaan sebagai pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukannya selama hidup di dunia.

Pertanyaannya, berada di kelompok manakah kita? Jika kita ingin menjadi tentara Allah maka berdakwahlah, masuk dalam barisan dakwah. Jangan minder menjadi seorang Da’I, karena pekerjaan seorang Da’i itu sangat mulia dan tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan lainnya. Kerangka berfikir kita adalah “Barang siapa yang menunjukkan seseorang ke jalan Allah, maka itu lebih baik dari apapun”

Dakwah itu dapat dianalogikan seperti main bola, akan sulit bila bergerak sendiri, dan harus dilakukan secara berjamaah, terstruktur dan yang menjadi goalnya/ tujuannya adalah Ridho Allah swt.

Amanah dakwah ini dibebankan kepada para pemuda, kenapa pemuda? Karena masa-masa muda ini adalah masa paling produktif, masa dimana seseorang berada pada kondisi Golden Age/ usia keemasannya. Dimana seseorang memiliki semangat yang tinggi, fisik yang kuat dan fikiran yang masih fresh belum banyak terkontaminasi. Dan Rasul dan para sahabat pun berdakwah pada saat mereka adalah seorang pemuda.


Kita sebagai generasi muda harus bisa diandalkan, dan konsisten/ istiqomah dalam berdakwah, apapun profesi kita, jadikan itu sebagai sarana untuk berdakwah. Sebuah pertanyaan yang harus ditanyakan kepada diri kita masing-masing “Maukah kita menjadi bagian dari tentara Allah, yang berdakwah menyerukan tegaknya Diinullah?”. Untuk jawaban dikembalikan kepada diri kita masing-masing! Yang jelas Ada atau tiadanya kita, dakwah akan tetap berjalan, karena dakwah adalah proyek langslung dari Allah swt yang diembankan hanya kepada orang-orang pilihanNya. Dan kita tinggal pilih “bergerak atau tergantikan”.



Kata Kunci: Peran pemuda dalam dakwah. Pemuda Muslim, Pemuda dan dakwah, Dakwah Islam

0 komentar:

Posting Komentar